
Entah kenapa terlintas dipikiranku tentang suatu pertanyaan...
"Lebih baik ditinggal pacar hidup atau mati..." semuanya sama - sama meninggalkan duka, meninggalkan sakit...
Banyak temanku yang memilih "mati".
tapi apakah dapat dengan mudah kau dapat menerimanya??
Menerima kabar orang yang kau sayangi meninggalkan engkau sendiri, disaat kau dapat merangkai waktu-waktu bahagia bersamanya....
beberapa pendapat teman :
"mati, kalo ditinggal pas idup, berati keinginan dia, uda jelas pacar ga mau sama kita, ya ngapain kt ngarepin dia.. kalo dtgl mati, menyedihkan.. smua diluar kuasa si pacar.. :'( jgn sampe de amit2.." (G)
"mati... klo dia masih hidup, lukanya masih terus membekas ketika masih melihat ntuh orang...." (V)
ayoo... pada saat berpendapat itu pasangannya pasti suka buat sakit ati atopun kesel... (hehehhe... :p)
tapi semua itu ga salah kok...
mencari data, akhirnya dapat data ini... Apkaha kalian juga merasakan hal yang seperti tahap ini,, :
Lima tahap berduka adalah: 1. Penyangkalan – “Ini tak mungkin terjadi padaku.” "pasti bercanda, bukan dia!" Terus mencari mantan pasangan di tempat-tempat yang biasa, memikirkannya, menangisinya (tak selalu) Atau kalau ia sudah mati, tetap menyediakan kopi dan sarapan paginya seakan-akan ia masih hidup. Tiada tangisan. Tidak mau menerima atau bahkan mengakui kehilangan itu.
2. Marah – “Mengapa aku?” Bermacam perasaan ingin melawan atau balas dendam atas perpisahan dengan pacar, atau orang yang kita sayang atas kematian orang tercinta/ berakhirnya sebuah hubungan. Marah kepada yang meninggal/yang mutuskan, menyalahkan mereka karena meninggalkannya ‘sendirian’ di dunia.
3. Tawar-menawar. Hal ini kadang-kadang terjadi sebelum kehilangan. Berusaha membuat perjanjian dengan pasangan yang meninggalkan, atau bernegosiasi dengan Tuhan agar menghentikan atau mengubah kehilangan itu. Memohon, meminta, berdoa agar mereka kembali.
4. Depresi. Dibanjiri perasaan frustrasi, tanpa daya, pahit, mengasihani diri sendiri, menangisi kehilangan orang yang dicintai maupun hilangnya harapan-harapan, mimpi-mimpi dan rencana-rencana masa depan. Merasa tidak bisa mengontrol diri, merasa lumpuh dan kosong. Mungkin juga timbul perasaan ingin bunuh diri.
5. Menerima. Ada perbedaan antara mundur kalah dan menerima. Anda harus menerima kehilangan itu, bukan cuma mencoba menanggungnya diam-diam. Musti menyadari bahwa perlu kedua belah pihak untuk memisahkan perkawinan. Menyadari bahwa orang yang Anda cintai sudah pergi (mati) dan bukan kesalahan mereka karena mereka bukan sengaja mau meninggalkan Anda (bahkan dalam kasus bunuh diri, seringkali orang yang mati tidak berada dalam kerangka berfikir yang benar). Anda musti menyadari bahwa ada hikmah dan kebaikan dalam kehilangan ini, sehingga Anda bisa menemukan rasa nyaman dan kesembuhan diri.
Berapa lama itu akan terjadi , hanya dirimulah yang mengetahui dan mengerti seberapa dalam orang terserbut ada di hatimu.
"sayangilah selagi mereka ada bersamamu. biarpun mereka menyakitimu tapi itulah namanya warna warni hidup. "